
Selama manusia masih bernafas dan masih hidup didunia, tidak akan terlepas dari dua kondisi ini kesedihan dan kecemasan. Karena dua kondisi itu adalah manusiawi. Sudah menjadi sunnatullah bahwa kesedihan akan ada dan muncul setelah ada kegembiraan atau kesenangan . Sementara kecemasan muncul karena adanya sesuatu harapan. Dua hal yang saling berlawanan tersebut selalu ada pada diri manusia. Karena itulah Allah SWT menurunkan petunjuk berupa agama (baca syareat) agar dipergunakan oleh manusia untuk mengatur hidupnya sehingga tidak tersesat dan mengarah kejalan yang benar. Setiap peristiwa yang terjadi selalu ada hikmah yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik yang menyedihkan atau yang tidak meng"enakkan"
Dua macam sumber
Adalah Allah SWT yang menciptakan kesedihan atau kesusahan agar manusia bisa menikmati arti kesenangan atau sebaliknya . Hal ini akan bisa memantapkan keimanan bahwa kehidupan dunia adalah semu, tiada kekal. Salah seorang ulama, Abdullah Ibn Husain Syuqail, menulis bahwa kesedihan dan kecemasan dapat dikelompokkan kedalam 2 (dua) golongan, yaitu :
1. Kesedihan dan kecemasan yang timbul dari ujian ketaatan dalam beragama.
Contoh yang bisa dikemukakan adalah rasa sedih dan cemas yang muncul pada saat lalai dan tidak optimal dalam memenuhi hak hak Allah yang menjadi kewajibannya atau pada saat melakukan dosa atau pada saat melihat penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin ketika bumi bumi mereka dijajah, kehormatan mereka diinjak injak , nyawa mereka dihabisi dan yang tersisa diusir dari bumi mereka sendiri. Atau pada saat melanggar apa yang diharamkan oleh Allah SWT atau pada saat manusia berpaling dari kebenaran atau pada saat wabah kemungkaran merajalela dan hal hal lain yang berkaitan erat dengan agama dan kemurkaan Allah SWT.
Kesedihan dan kecemasan semacam ini mengalami pasang surut. Akan semakin meningkat ketika iman bertambah dan akan menurun ketika iman berkurang. Keswedihan dan kecemasan jenis ini dosa dosa akan berguguran, sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Said dan Abi Hurairah : " Tidaklah seorang mukmin dilanda keletihan , penyakit, kesedihan, kecemasan, rasa sakit dan kegalauan sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan mengampuni sebagian dari dosa dan kesalahan dengan semua yang melandanya. "
Orang yang benar benar beriman akan bersedih manakala kurang optimal dalam beribadah kepada Rabbnya atau lalai melakukan dosa atau maksiat. Kondisi ini menunjukkan sehatnya iman yang ada dalam hati dan kehidupan yang dia jalani.
2. Kesedihan dan kecemasan yang timbul dari ujian dunia.
Yang bisa dicontohkan dalam hal ini adalah perasaan takut, lapar, miskin/kekurangan, sakit, kerugian dalam perniagaan (kebangkrutan ) dan persoalan persoalan dunia lainnya. Apabila kesedihan jenis ini menimpa seorang hamba maka tidak dapat menggugurkan dosa dan kesalahannya, kecuali jika ia bersabar dalam menghadapinya. Hal itu didasarkan pada firman Allah SWT : " Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar , yaitu orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan " Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. " (Q.S AlBaqoroh : 155 - 1
Rasullah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Yahya Shuhaib Ibn Sinan R.A : " Apapun menakjubkan bagi seorang mukmin. Seluruh urusan membawa kebaikan baginya. Dan hal ini tidak dirasakan kecuali bagi si mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur. Dan ini lebih baik bagi dirinya. Dan jika ditimpa kesulitan ia bersabar. Dan ini lebih baik bagi dirinya."
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesedihan dan kecemasan yang bersumber dari ujian keimanan tidak akan menyebabkan seseorang menjadi depressi walau bagaimana besarnya ujian tersebut.
Sedangkan kesedihan dan kecemasan yang bersumber dari persoalan dunia cenderung nisbi. Jika penderita terus menerus bertaubat, beristighfar dan berharap pahala dari Allah maka kesedihan dan kecemasannya itu tidak akan menghantarkannya kepada kesempitan hati. Bahkan sebaliknya membuat hatinya lapang. Namun jika tidak bersabar, maka kesedihan dan kecemasannya akan bertambah dalam , sehingga menyebabkan hatinya semakin sempit.
Waallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar