Pengertian ulama menurut Hadits Nabi : " Ulama adalah pewaris para Nabi , sesungguhnya para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu pengetahuan." (Hadits riwayat Anas sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Jaami' Ash Shaghiir : "Ulama adalah pewaris para Nabi " Dalam hadits riwayat Ahmad , Arba'ah dan yang lainnya dari Abid Darda, hadits marfu' sebagaimana yang diriwayatkan oleh pengarang, disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan sebagian mereka menganggap hadits hasan , dan yang lainnya menganggap hadits dho'if karena sanadnya masih samar samar, tetapi dia memiliki saksi dan cara untuk mengetahui bahwa hadits itu benar darinya, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh bin Hajar Ajaluni).
Dalam hadits lain disebutkan sebagai berikut : " Ulama ulama dari umatku menyerupai para Nabi dari kaum Bani Israel. " (Hadits ini ditetapkan sebagai hadits riwayat Al Fahrur Razi, Ibnu Qudamah, Al Asnawi dan yang lainnya. Akan tetapi As Suyuthi dalam Ad Darrir dan Ibnu Hajar : hadits tersebut bukan dari dia ,. Ajaluni)
Dikalangan kaum Bani Israil selalu ada nabi yang diutus setelah nabi yang sebelumnya wafat, yang memperbaharui syareat nabi Musa A.S. Mereka diperintahkan dakwah kepada sekalian hamba Allah untuk menjalankan agama. Mereka diutus untuk menyampaikan anjuran untuk melaksanakannya. Mereka diperintahkan untuk menakut nakuti kepada sekalian hamba Allah agar tidak menyia nyiakan perintahNya serta menjauhi larangannya, mereka menerima wahyu dari Allah SWT sebagaimana diketahui oleh orang orang melalui riwayat dan beritanya, hingga Allah mengutus Nabi Isa A.S dengan tuntunan agama (syariat) sebagai pengganti syariat nabi Musa A.S. Namun Bani Israil tidak percaya , bahkan mendustakannya dengan perkataan yang bathil. Kemudian setelah nabi Isa diangkat kelangit, terjadilah kekosongan sampai diutusnya Nabi Muhammad SAW. sebagai pemimpin keturunan Nabi Adam A.S. dengan kitab Al Qur'an dan tuntunan agama yang lengkap dan universal, yang mengganti tuntunan agama sebelumnya. Tetapi orang orang Yahudi dan Nasrani tidak percaya dan mendustakannya, kecuali orang orang yang dikehendaki oleh Allah SWT.
Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi
Allah SWT memilih Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi dan Rasul, sebagaimana firmannya : " Muihammad itu sekali kali bukanlah bapak dari seorang laki laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. " ( Q.S. Al Ahzab/33 : 40)
Jadi Allah SWT telah menutup predikat kenabian dan kerasulan dengan datangnya Nabi Muhammad SAW. Allah menjadikan predikat kenabian yang sempurna, sehingga setelah Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi Nabi dan Rasul. Oleh karena itu Allah SWT dengan anugerahnya menjadikan para ulama sebagai pewarisnya . khalifah dan dan pembawa syariatnya serta hal yang penting dalam agama, berfungsi menyerupai nabi nabi kaum Bani Israil dari sebagian segi dan segi yang lain, walaupun derajad kenabian sudah tidak ada jalan sesudah nabi Muhammad SAW dengan jalan apapun. Sebab jalan untuk mencapai derajat itu memang ditutup, juga usaha dan ijtihad tidak akan dapat mencapai derajat kenabian walaupun dalam waktu yang masih memungkinkan, yaitu pada masa sebelum masa Nabi Muhammad SAW. diutus.
Sekiranya situasi telah dapat diketahui dan dimengerti maka Allah SWT menjadikan golongan umat Muhammad SAW, para ahli dakwah yang mengajak kepada kebenaran, menjadikan Mujaddid (pembaharu) terhadap tanda tanda kebenaran agama ketika telah lenyap dan timbul kemalasan serta kelengahan dalam melajksanakan perintah dan meninggalkan larangan agama. Dalam situasi semacam ini diisyaratkan dalam sabda Nabi SAW : " Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Taala membangkitkan untuk ummat ini orang orang yang memperbaharui agama mereka pada tiap permulaan abad (seratus tahun)."
Para Pembaharu agama
Para ulama menjelaskan bahwa pembaharu diabad pertama adalah khalifah Umar bin Abdul Aziz Al UmawyAl Qurasyi wafat tahun 101 H. Abad kedua, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii Al Muntholibi , wafat tahun 204 H. Abad ketiga adalah Imam Ibnu Suraij Asy syafi'i atau Syaikh Abul Hasan Al Asy'ari yang juga dijuluki sebagai Al Baaz Al Asyhab, wafat pada tahun 3006 H di Bagdad. Kemudian abad keempat, Qodhi Abu Bakar Al Baqilani Al Maliky wafat tahun 403 H dan Syaikh Abu Hamid Al Isfarayani Asy Syafi'i wafat tahun 406. Selanjutnya pembaharu pada abad ke 5 yaitu : Al Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali, wafat tahun 505 H.
Adapun mujaddid abad keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuiluh, yang dengan sempurnanya abad kesepuluh ini berarti sempurna mencapai 1000 tahun dari hijrahnya Nabi terdapat perselisihan ulama. Dari permulaan hijrahnya Nabi kemudian ditetapkan oleh khalifah Umar bin Kattab R.A. atas isyarat Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A. sebagai permulaan tahun Hijrah. Juga terjadi perselisihan para ulama dalam menetapkan mujaddid abad ketiga dan keempat.
Sepeninggal Nabi
Pembaharuan dalam agama adalah merupakan ciri khusus bagi ummat Nabi Muhammad, sebab sesudahnya tidak ada lagi Nabi dan Rasul. Semoga Allah selalu melimpahkan RahmadNya kepada Nabi Muhammad SAW. dan sekalian para Nabi dan Rasul. Selanjutnya telah sampai kepada kita bahwa setelah Rasulullah SAW wafat,dan terputusnya wahyu, maka bumi mengadukan kepada Allah , bahwa tidak ada lagi Nabi yang berjalan diatasnya . Oleh sebab itu Allah menjadikan dalam kalangan ummat Nabi Muhammad beberapa wali autad, abdal, dan sesamanya dari para wali Allah dan para ahli makrifat kepadaNya yang menjadi pewaris Nabi dan penerus perjuangannya. Sehingga diriwayatkan bahwa sebagian para waliyullah tersebut memiliki hati yang sama dengan hati nabi Ibrahim dan Nabi Nabi Allah lainnya beserta malaekat malaekat Allah sesuai dengan riwayat yang disebutkan dalam hadits hadits nabi dan kata kata para sahabat . (Bersambung).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar