Rabu, 31 Mei 2017

MEMAHAMI ULAMA SEBAGAI PEWARIS NABI



Pengertian ulama

Pengertian ulama menurut Hadits Nabi  : " Ulama adalah pewaris para Nabi , sesungguhnya para Nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu pengetahuan." (Hadits riwayat Anas sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Jaami' Ash Shaghiir : "Ulama adalah pewaris para Nabi "  Dalam hadits riwayat Ahmad , Arba'ah  dan yang lainnya dari Abid Darda, hadits marfu' sebagaimana yang diriwayatkan oleh pengarang, disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan sebagian mereka menganggap hadits hasan , dan yang lainnya menganggap hadits dho'if karena sanadnya masih samar samar, tetapi dia memiliki saksi dan cara untuk mengetahui bahwa hadits itu benar darinya, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh bin Hajar Ajaluni).

Dalam hadits lain disebutkan sebagai berikut :  " Ulama ulama dari umatku menyerupai para Nabi  dari kaum Bani Israel. " (Hadits ini ditetapkan sebagai hadits riwayat Al Fahrur Razi, Ibnu Qudamah, Al Asnawi dan yang lainnya. Akan tetapi As Suyuthi dalam Ad Darrir dan Ibnu Hajar  : hadits tersebut bukan dari dia ,. Ajaluni)

Dikalangan kaum Bani Israil selalu ada nabi yang diutus setelah nabi yang sebelumnya wafat, yang memperbaharui syareat nabi Musa A.S. Mereka diperintahkan dakwah kepada sekalian hamba Allah untuk menjalankan agama. Mereka diutus untuk menyampaikan anjuran untuk melaksanakannya. Mereka diperintahkan untuk menakut nakuti kepada sekalian hamba  Allah agar tidak menyia nyiakan perintahNya serta menjauhi larangannya, mereka menerima wahyu dari Allah SWT sebagaimana diketahui oleh orang orang melalui riwayat dan beritanya, hingga Allah mengutus Nabi Isa A.S dengan tuntunan agama (syariat) sebagai pengganti syariat nabi Musa A.S.  Namun Bani Israil tidak percaya , bahkan mendustakannya dengan perkataan yang bathil. Kemudian setelah nabi Isa diangkat kelangit, terjadilah kekosongan sampai diutusnya Nabi Muhammad SAW.  sebagai pemimpin keturunan Nabi Adam A.S. dengan kitab Al Qur'an dan tuntunan agama yang lengkap dan universal, yang mengganti tuntunan agama sebelumnya. Tetapi orang orang Yahudi dan Nasrani tidak percaya dan mendustakannya, kecuali  orang orang yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi

Allah SWT memilih Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi dan Rasul, sebagaimana firmannya :  " Muihammad itu sekali kali bukanlah bapak dari seorang laki laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. " ( Q.S. Al Ahzab/33 : 40)

Jadi Allah SWT telah menutup predikat kenabian dan kerasulan dengan datangnya Nabi Muhammad SAW. Allah menjadikan predikat kenabian yang sempurna, sehingga setelah Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi Nabi dan Rasul. Oleh karena itu Allah SWT dengan anugerahnya menjadikan para ulama sebagai pewarisnya . khalifah dan dan pembawa syariatnya  serta hal yang penting dalam agama, berfungsi menyerupai nabi nabi  kaum Bani Israil dari sebagian segi dan segi yang lain, walaupun derajad kenabian sudah tidak ada jalan sesudah nabi Muhammad SAW dengan jalan apapun. Sebab jalan untuk mencapai derajat itu memang ditutup, juga usaha dan ijtihad tidak akan dapat mencapai derajat  kenabian walaupun dalam waktu yang  masih memungkinkan, yaitu pada masa  sebelum masa Nabi Muhammad SAW. diutus. 

Sekiranya situasi telah dapat diketahui dan dimengerti maka Allah SWT menjadikan golongan umat Muhammad SAW, para ahli dakwah yang mengajak kepada kebenaran, menjadikan Mujaddid  (pembaharu) terhadap tanda tanda kebenaran agama ketika telah lenyap  dan timbul kemalasan serta kelengahan dalam melajksanakan perintah dan meninggalkan larangan agama. Dalam situasi semacam ini diisyaratkan dalam sabda Nabi SAW : "  Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Taala membangkitkan untuk ummat ini orang orang yang memperbaharui agama mereka  pada tiap permulaan abad (seratus tahun)."

Para Pembaharu agama

Para ulama menjelaskan bahwa pembaharu diabad pertama  adalah khalifah  Umar bin Abdul Aziz Al UmawyAl Qurasyi wafat tahun 101 H. Abad kedua, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii Al Muntholibi , wafat tahun 204 H. Abad ketiga  adalah Imam Ibnu Suraij Asy syafi'i atau Syaikh Abul Hasan Al Asy'ari yang juga dijuluki sebagai Al Baaz Al Asyhab, wafat pada tahun 3006 H di Bagdad. Kemudian abad keempat, Qodhi Abu Bakar Al Baqilani Al Maliky wafat tahun  403 H dan Syaikh Abu Hamid Al Isfarayani Asy Syafi'i wafat tahun 406. Selanjutnya pembaharu pada abad ke 5 yaitu : Al Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali, wafat tahun 505 H.
Adapun mujaddid abad keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuiluh, yang dengan sempurnanya abad kesepuluh ini berarti sempurna mencapai 1000 tahun  dari hijrahnya Nabi terdapat perselisihan ulama. Dari permulaan hijrahnya Nabi kemudian ditetapkan oleh khalifah Umar bin Kattab R.A. atas isyarat Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A.  sebagai permulaan tahun Hijrah. Juga terjadi perselisihan para ulama dalam menetapkan mujaddid abad ketiga dan keempat. 

Sepeninggal Nabi

Pembaharuan dalam agama adalah merupakan ciri khusus bagi ummat Nabi Muhammad, sebab sesudahnya tidak ada lagi Nabi dan Rasul. Semoga Allah selalu melimpahkan RahmadNya kepada Nabi Muhammad SAW. dan sekalian para Nabi dan Rasul. Selanjutnya telah sampai kepada kita  bahwa setelah Rasulullah SAW wafat,dan terputusnya wahyu, maka bumi mengadukan kepada Allah , bahwa tidak ada lagi Nabi yang berjalan diatasnya . Oleh sebab itu Allah menjadikan dalam kalangan ummat Nabi Muhammad  beberapa wali autad, abdal, dan sesamanya dari para wali Allah dan para ahli makrifat kepadaNya yang menjadi pewaris  Nabi dan penerus perjuangannya. Sehingga diriwayatkan bahwa sebagian para waliyullah tersebut memiliki hati yang sama dengan hati nabi Ibrahim dan Nabi Nabi Allah lainnya  beserta malaekat malaekat Allah sesuai dengan riwayat  yang disebutkan dalam hadits hadits nabi dan kata kata para sahabat . (Bersambung).


MENUJU JIWA YANG TENANG



Makna sederhana dari kata ketenangan jiwa adalah kondisi dimana jiwa itu sudah berada pada tahap ketenangan sejati, rasa lapang, tidak ada tekanan, menerima kenyataan, berpasrah diri pada Sang Khalik, bisa merasakan manisnya iman, bisa mengendalikan diri dan hawa nafsu, jauh dari kebencian, tenteram dan hati menjadi luas dan lepas.

Manusia yang sudah bisa mencapai tahap ketenangan jiwa ini adalah manusia yang memahami hakikat kehidupan, sudah mengertia apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Dan umumnya manusia akan menjadi lebih tenang jika ia sudah berada di dekat Penciptanya, jika manusia sudah mengenal dan meyakini bahwa ada kekuatan amat besar di alam ini yang melampaui kekuatan apapun dan hanya DIA yang maha berkuasa atas dirinya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dan itulah hakikat diciptakannya jiwa ini bagi seluruh mahluk, jiwa itu akan selalu mencari kebenaran hakiki tentang sosok Penciptanya dan jiwa akan merasa tenang jika sudah menemukan dan menjadikan Sang pencipta sebagai sandaran utama hidupnya. Kemanapun jiwa itu pergi dan sembunyi maka jiwa akan selalu berupaya mencari kebenaran hakiki, karena itulah hakikat diciptakannya jiwa.

"Yaitu orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah swt". QS. Ar Rad :28)

Lalu seperti apa sebenarnya wujud dan kiprah sosok jiwa yang tenang dalam diri manusia sebenarnya.

HAKIKAT JIWA, AN NAFS DAN KALBU

Ada baiknya kita mengetahui dulu siapa sosok Jiwa yang menghuni raga kita ini. Jiwa atau Nafs dan biasa orang menyebutnya Soul juga memiliki sisi ghaib yang sama sekali tidak bisa kita definisikan dengan sempurna. Siapa sosok jiwa yang dimaksud dan dimana letak dan penempatannya? An Nafs atau Jiwa adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau susuk yang belum tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam yaitu min sulaatin min thiin (ekstrak/saripati alam), maka dari itu sosok jiwa adalah wujud yang mudah berdaptasi dengan alam kehidupan dunia (membutuhkan asupan energi yang berasal dari alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari unsur yang sama dengan Malaikat mahupun Jin, ia adalah jisim yang hingga sekarang masih merupakan bagian dari rahasia Allah swt.

Semua berawal ketika jiwa ini disumpah untuk meyakini keberadaan Tuhan yang Esa, maka memang ia mengakui dan tidak menyanggah hal tersebut. Bahwa ada kekuatan yang berkuasa atas dirinya dan ia sudah mengakui dan ia mau menjadi saksi di hari akhir kelak. Jiwa ini adalah sosok yang merasa, berkehendak, memahami, dan menerima. Ia bisa membedakan dan bisa mengerti sebuah perintah dari Tuhannya. Jiwa ini sangat memahami bahwa ia sangat bergantung pada penciptanya, bawa ia akan selalu membutuhkan pertolongan Sang Pencipta. Sehingga jelaslah, bahwa setiap jiwa manusia ketika dilahirkan ke dunia ini ia sudah memahami hakikat ketuhanan. Dan Ia dilahirkan sudah dalam kondisi mengenal konsep penciptaan. berikut firman Allah swt dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:

“Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukakankan Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesunggunya kami adalah oran-orang lalai terhadap keesaaaan Mu.

Itulah sebabnya setiap Jiwa manusia pasti akan senantiasa mencari tahu keberadaan Tuhan meski ilmu mereka sangat minim, meski mereka berusaha menjauhinya, mereka tidak pernah berhenti untuk mempercayai bahwa ada kekuatan yang Maha dahsyat di dunia ini. Jiwa tidak akan merasa tenang sampai pada tahap ia mengetahui siapa sosok yang yang harus disembah dan diagungkan. Karena diawal mereka sudah terikat janji dan sumpah untuk selalu hanya mengabdi kepada-Nya.
Hakikat kebutuhan beragama sudah ada sejak manusia lahir ke bumi ini. Mulai dari jaman nabi Adam hingga datanglah kemajuan baru dengan lahirnya Nabi Muhammad saw yang membawa risalah kebenaran dengan Kitab suci Al Quran. Meski selama perjalanannya memang ada sebagian ajaran yang menyimpang dan tidak sesuai akidah, namun itu akhirnya bisa dikembalikan pada kebenaran. Didalam al quran sudah terangkum dan tersusun jelas ajaran-ajaran dari nabi sebelumnya, mulai dari Kitab Taurat, Jabur dan Injil menjadi sebuah kitab yang sempurna. Dan semuanya memiliki masa berproses dengan waktu yang cukup panjang.
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. QS. Ali Imran:164.

Pilihan Jalan Ketaqwaan dan Kefasikan

Dan ketika proses penciptaan jiwa hampir mencapai kesempurnaan, maka turun ayat berikut ini, yang menyatakan bahwa pada setiap jiwa diilhamkan pilihan kepada jalan ketaqwaan atau kefasikan dalam menempuh bahtera kehidupan. Setiap jiwa akan mengetahui mana yang dimaksud dengan kebenaran dan mana yang dimaksud dengan kesalahan. Dan jiwa juga diberi pemahaman bahwa jika ia mau mensucikan diri (jiwa)nya maka ia akan menjadi lebih baik, sedangkan jika ia merusak jiwa tersebut maka ia akan menjadi kotor.
Surah Asy Syams (91:7-9) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.
Ini artinya bahwa setiap jiwa juga sudah diberikan pengetahuan tentang konsep ketuhanan yang benar, juga diberikan pemahaman tentang hakikat memilih jalan yang lurus dan jalan keburukan, juga dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan belajar melalui banyak hal.
Setiap jiwa diperbolehkan menentukan pilihannya masing-masing. Sepenuhnya itu tergantung pada kebutuhan masing-masing jiwa. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dan setiap keputusan sudah diambil dengan penuh kesadaran, sudah melewati tahap pencarian, pembelajaran, sudah di pikirkan dan difahami dan dikaji . Tidak ada lagi alas an bagi setiap jiwa untuk menghindar dan menyanggah semua kenyataan ini bahwa manusia adalah mahluk yang tidak bersyukur jika ia tidak memahami hakikat kemanusiaannya yang sempurna ini.

“maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya.” Quran At takwir :14

Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap jiwa akan bertanggung jawab pada diri mereka masing-masing dihari akhir kelak. Setiap jiwa akan dimintakan pertanggungjawabannya atas semua perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Tidak ada yang dapat menyelamatkan setiap jiwa dari kehancuran dan siksa api neraka, selain amal ibadahnya selama di dunia.

CARA KERJA JIWA DAN HATI
Jadi secara harfiah, sesungguhnya jiwa manusia ketika diciptakan adalah suci dan bersih, termasuk unsure ruh yang ada didalamnya. Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa kesucian (jiwa yang lurus). Ia akan mengawali kehidupannya dengan fitrah suci ini. Manusia adalah mahluk allah yang paling sempurna komposisinya, meski ia hanya terbuat dari segenggam tanah dan setetes air mani, namun manusia adalah karya ciptaan allah yang terbaik yang pernah ada. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud:

"Sesungguhnya kami ciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpang) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami jadikan dia mahluk yang (berbentuk) lain. Maha SUci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu'min [23]:12-14)
Maka dari itu beruntungkah orang yang mensucikan hatinya dan rugilah orang yang mengotori hatinya.

JIWA YANG TERSESAT

Untuk menjawab mengapa ada jiwa yang tersesat dan ada yang menuju jalan yang lurus? Dalam hal ini kita akan kembali lagi dibawa kepada sejarah masa lalu yang berkaitan dengan awal penciptaan Nabi Adam as. Dimana ketika Allah menghukum bangsa Iblis untuk keluar dari surge akibat membangkang perintah-Nya untuk tunduk dan sujud kepada Adam, maka Iblis membuat sumpah bahwa ia akan menyesatkan dan menjerumuskan manusia dan keturunannya.
Allah swt. berfirman :
قال فبعزتك لأغوينهم اجمعين الا عبادك منهم المخلصين
Artinya : Iblis bersumpah ”Demi sifat keagunganMu Tuhan, niscaya aku pasti akan membujuk anak cucu Adam semua. Kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas (dalam beramal)”.
 

Itulah sumpah Iblis. Ia dan seluruh tentaranya akan berusaha sekuat tenaga mereka demi menjerumuskan anak cucu Nabi Adam as. Ke jalan yang sesat.  
Dalam surat Al a’rof ayat 16-17 juga di sebutkan:
قال فبما اغويتني لاءقعدن لهم صراطك المستقيم ثم لاءتينهم من بين ايديهم ومن خلفهم وعن ايمانهم وعن شمائلهم ولاتجد اكثرهم شاكرين

Artinya : ”Iblis menjawab karena Engkau (Allah) telah menghukum saya tersesat maka saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapat kebanyakan mereka bersyukur ( taat)”.

Assyeh Nashr menafsiri ayat di atas bahwa iblis akan menghalang-halangi upaya anak cucu Adam dari menjalakan semua aturan-aturan yang telah di sahkan oleh Allah, dan iblis akan menyesatkan mereka dengan berbagai bentuk rayuan-rayuanya, iblis mendatangi mereka untuk membujuk dalam berbagai bentuk:

1. Iblis menggoda manusia supaya mereka melupakan Akhirat sehingga mereka dalam kebimbangan (berada di tepi)

2. Iblis merayu manusia dengan berbagai perhiasan dunia sehingga mereka akan jatuh hati pada dunia dan melupakan Akhirat.

3. Iblis akan menyesatkan manusia dari arah agama dan keataatan artinya manusia di pengaruhi oleh iblis dalam menjalankan ibadahnya supaya mereka tidak ikhlas, malas-malas dalam beramal dan supaya ujub atau membanggakan diri dll

4. Iblis akan menggoda manusia untuk selalu berbuat maksiat dan mungkar.

Maulana Assyeh Amin Al-Kurdhi menyebutkan tentang kaitannya dengan ayat ini bahwa sewaktu allah swt memberi kelonggaran waktu pada iblis bisa hidup sampai kiamat iblis lalu berkata:
وعزتك لااخرج من قلب ابن ادم مادام فيه الروح

“Demi sifat kemulyaan-MU tuhan aku tidak akan keluar ( untuk mengganggu ) dari hatinya anak cucu adam selagi mereka masih mempunyai ruh” lalu allah berfirman:
لا امنعهم التوبة مادامت ارواحهم في اجسادهم

“Demi sifat kemulyaanku aku tidak akan menolak tobat mereka selagi ruh masih berada di jasad mereka”

Iblis berkata lagi, لاغوينهم اجمعين “niscaya aku pasti akan membujuk mereka semua”
allah berfirman lagi لاكقرن عنهم سيئاتهم 
“pasti aku akan menghapus semua kejelekan-kejelekan mereka”
Iblis berkata lagi:
لااتينهم من ايديهم ومن خلفهم وعن ايمانهم وعن شمائلهم
“Aku pasti akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka”
setelah mendengar itu semua hati malaikat menjadi tipis(kasihan)terhadap manusia, kemudian allah berfirman:
انه بقي للانسان جهة الفوق والتحت فاذا رفع يديه باالدعاء على سبيل الحضوع اووضع وجهه على الارض على سبيل الخشوع غفرت له الذنوب ولا ابالى
Artinya “Sesungguhnya masih ada cara bagi manusia yaitu arah atas dan bawah, apabila manusia mau mengangkat ke dua tangan untuk berdoa dengan penuh ketundukan atau meletakkan wajahnya pada bumi ( sujud ) dengan penuh khusu’ maka aku akan mengampuni dosa-dosanya secara pasti”
 
Dalam sanubari setiap Bani Adam itu selalu di temani oleh dua teman yaitu :Malaikat
CARA KERJA SYETAN MENYESATKAN MANUSIA

Syetan dengan sedaya upaya akan menutupi hati manusia dari menerima nur illahi. Karena sesuai kodratnya setiap manusia mempunyai jiwa yang suci, didalam jiwa ada tiga sifat yang menyertainya; mutmainah, lawammah dan amara bi’su. Dalam perjalanan hidup manusia tersebut, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa, mana diantara ketiga sifat jiwanya itu yang mendominasi. Mana diantara ketiga sifat itu yang menjadi pemimpin atas dirinya, jika ia mampu menghalau usaha syetan yang ingin menyesatkannya, semoga saja ia selamat dari bujuk rayu. Sedangkan jika ia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu dalam dirinya, maka kemungkinan ia akan mengikuti langkah-langkah syetan.

"...dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS. As Shaad:26)

Syaitan akan senantias menutupi hati manusia adalah dengan cara menghidupkan hawa nafsu tercela (nafs lawammah) dan membawanya ke arah maksiat serta kegelapan. Syetan akan membimbingnya ke jalan kefasikan, sebagaimana sudah ditetapkan bagi manusia memang mengenal adanya jalan kemungkaran. Manusia yang sudah masuk ke dalam perangkap syetan dan membiarkan jiwanya menjadi kotor dan tercemar lama kelamaan dalam dirinya berjangkit berbagai penyakit hati seperti: dengki, iri, ujub, congkak, riya, sombong dan sebagainya. Jika jiwa sudah mengetahui dan sadar bahwa tindakannya itu salah dan ia membiarkan dirinya dalam perbuatan dosa dan tidak berusaha memperbaiki diri dan bertobat. Lalu allah membiarkan dirinya tersesat sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:
“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil iktibarnya.”

Kesimpulan dari penjabaran di atas adalah bahwa hakikat menuju jiwa yang tenang adalah ketika seorang manusia mengenal dirinya dan mengenal juga Pencipta-Nya, maka dengan serta merta ia juga akan memahami dan mengetahui arah tujuan hidupnya. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang dapat mengenali tugas dan kewajiban, bisa membedakan mana jalan kebenaran dan mana jalan kefasikan, bisa mengendalikan diri terutama hawa nafsunya, bisa mengenali kebutuhan jiwanya sendiri serta bisa menjadikan diri terutama jiwanya bernilai manfaat bagi orang lain. Jiwa yang tenang adalah hakikat ketenangan sejati dari dalam hati dan bisa membuat seseorang memiliki keteguhan hati dalam menentukan sikap dan bertindak menetukan jalan hidupnya sendiri menuju cahaya kebenaran illahi. Sebagaimana firman Allah tentang hati yang tenang berikut ini:

"hai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi di ridhoi. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku, masuklah ke dalam syurgaku". QS Al Fajr; 27-30.

PERINTAH DAKWAH DAN KEUTAMAANNYA

Kedudukan dan Dasar perintah Dakwah
Didalam Islam "dakwah" menempati posisi amalan yang tertinggi. Dalam dakwah mengandung seruan kepada seluruh manusia untuk mengikuti dan mentaati Allah dan agamaNya, mengikuti syareat Allah yang dibawa melalui Nabi dan  RasulNya.  Karena inilah yang diperintahkan Sang Maha  pencipta  Allah SWT. sebagaimana disebutkan dalam kitab suci AlQur'an , Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung telah berfirman dalam kitab  yang telah diturunkan kepada RasulNya yang benar dan dipercaya :

" Serulah (manusia) kejalan Tuhanmu dengan jalan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang orang yang mendapat petunjuk (Q.S. An Nahl/16 : 125).

Dalam ayat yang lain Allah SWT. berfirman :


Senin, 29 Mei 2017

DAKWAH ITU BAGIAN TAK TERPISAHKAN DARI ISLAM

Agama yang dalam istilah Islam disebut Ad Dien adalah metode kehidupan yang berisikan ketaatan dan kepatuhan  kepada Allah SWT.  Secara umum agama ini berisikan 2 hal besar yaitu ikhbar dan Insya'. Ikhbar adalah pemberitaaan Allah tentang keesaanNya, Sifat sifatNya dan pemberitaan ghaib lainnya yang harus diimani. Sedangkan Insya'  berisikan perintah perintah dan larangan. Perintah dan larangan yang dikehendaki Allah  adalah perintah kebajikan serta larangan terhadap kemungkaran. Inilah yang dinamakan sebagai dakwah, yaitu sebuah aktifitas yang menyeru kepada umat manusia atas perintah Allah untuk melakukan amar makruf nahi mungkar.

Agama bukan masalah privasi

Pengertian makruf adalah segala yang dicintai dan diridloi Allah SWT dan RasulNya sedangkan mungkar adalah segala yang dibenci dan tidak diridloi Allah dan RasulNya. Ini juga sebagai penegasan bahwa agama buka sekedar masalah privasi  (individu) sebagaimana anggapan sebagian kaum sekuler, sehingga orang lain tidak boleh ikut campur  dalam urusan pribadi orang lain.  Seumpama agama itu menjadi masalah privasi, tentu tidak ada tugas amar makruf nahi mungkar atas umat ini. Sebab masing masing orang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Tetapi nyatanya Allah telah menjadikan  tugas tersebut sebagai fardlu kifayah atas umat Islam, sebagaimana firmannya : " Dan hendaklah diantara kamu ada  segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Merekalah orang orang yang beruntung."  (Q.S. ali Imron 104)


Rabu, 10 Mei 2017

KESEDIHAN DAN KECEMASAN


Selama manusia masih bernafas dan masih hidup didunia, tidak akan terlepas dari dua kondisi ini kesedihan dan kecemasan. Karena  dua kondisi itu adalah manusiawi. Sudah menjadi sunnatullah bahwa kesedihan akan ada dan muncul setelah ada kegembiraan atau kesenangan . Sementara kecemasan muncul karena adanya sesuatu harapan. Dua hal yang saling berlawanan tersebut selalu ada pada diri manusia. Karena itulah Allah SWT menurunkan petunjuk berupa agama (baca syareat) agar dipergunakan oleh manusia untuk mengatur hidupnya sehingga tidak tersesat dan mengarah kejalan yang benar. Setiap peristiwa yang terjadi selalu ada hikmah yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik yang menyedihkan atau yang tidak meng"enakkan"


Dua macam sumber  

 Adalah Allah SWT yang menciptakan kesedihan atau kesusahan agar manusia bisa menikmati arti kesenangan atau sebaliknya . Hal ini akan bisa memantapkan keimanan bahwa kehidupan dunia adalah semu, tiada kekal. Salah seorang ulama, Abdullah Ibn Husain Syuqail, menulis bahwa kesedihan dan kecemasan dapat dikelompokkan kedalam 2 (dua) golongan, yaitu :

1. Kesedihan dan kecemasan yang timbul  dari ujian ketaatan dalam beragama.
Contoh yang bisa dikemukakan adalah rasa sedih dan cemas yang muncul pada saat lalai dan tidak optimal dalam memenuhi hak hak Allah yang menjadi kewajibannya  atau pada saat melakukan dosa atau pada saat melihat penderitaan yang dialami oleh kaum muslimin ketika bumi bumi mereka dijajah, kehormatan mereka diinjak injak , nyawa mereka dihabisi dan yang tersisa diusir dari bumi mereka sendiri. Atau pada saat melanggar apa yang diharamkan oleh Allah SWT atau pada saat manusia berpaling dari kebenaran atau pada saat wabah  kemungkaran merajalela dan hal hal lain yang berkaitan erat dengan agama dan kemurkaan Allah SWT.

Kesedihan dan kecemasan semacam ini mengalami pasang surut. Akan semakin meningkat ketika iman bertambah dan akan menurun ketika iman berkurang. Keswedihan dan kecemasan jenis ini dosa dosa akan berguguran, sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Said dan Abi Hurairah : " Tidaklah seorang mukmin dilanda keletihan , penyakit, kesedihan, kecemasan, rasa sakit dan kegalauan sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan mengampuni sebagian dari dosa dan kesalahan dengan semua yang melandanya. "

Orang yang benar benar beriman akan bersedih manakala kurang optimal dalam beribadah kepada Rabbnya atau lalai melakukan dosa atau maksiat. Kondisi ini menunjukkan sehatnya iman yang ada dalam hati dan kehidupan yang dia jalani.

2. Kesedihan dan kecemasan yang timbul dari ujian dunia.

Yang bisa dicontohkan dalam hal  ini adalah perasaan takut, lapar, miskin/kekurangan, sakit, kerugian dalam perniagaan (kebangkrutan ) dan persoalan persoalan dunia lainnya. Apabila kesedihan jenis ini menimpa  seorang hamba maka tidak dapat menggugurkan dosa dan kesalahannya, kecuali jika ia bersabar dalam menghadapinya. Hal itu didasarkan pada firman Allah SWT  : " Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit  ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar , yaitu orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan " Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. "  (Q.S AlBaqoroh : 155 - 1

Rasullah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Yahya Shuhaib Ibn Sinan R.A : " Apapun menakjubkan bagi seorang mukmin. Seluruh urusan membawa kebaikan baginya. Dan hal ini tidak dirasakan kecuali bagi si mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur. Dan ini lebih baik bagi dirinya. Dan jika ditimpa kesulitan ia bersabar. Dan ini lebih baik bagi dirinya."

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesedihan dan kecemasan yang bersumber dari ujian keimanan tidak akan menyebabkan seseorang menjadi depressi walau bagaimana besarnya ujian tersebut.
Sedangkan kesedihan dan kecemasan yang bersumber  dari persoalan dunia cenderung nisbi. Jika penderita terus menerus bertaubat, beristighfar dan berharap pahala dari Allah maka kesedihan dan kecemasannya itu tidak akan menghantarkannya kepada kesempitan hati. Bahkan sebaliknya membuat hatinya lapang. Namun jika tidak bersabar, maka kesedihan dan kecemasannya akan bertambah dalam , sehingga menyebabkan hatinya semakin sempit.
Waallahu a'lam.
 

Senin, 08 Mei 2017

BERSYUKURLAH MENJADI LANSIA



Fenomena Lansia

Judul diatas pantas disematkan kepada orang orang yang pada saat ini berpredikat sebagai lansia (baca : manusia lanjut usia). Para Lansia wajib bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT. Apalagi ketia seseorang sudah mulai udzur dan  memasuki masa pensiun dari pekerjaan yang sudah begitu lama ditekuninya kemudian memasuki masa tua, masa usia lanjut dalam kondisi tetap sehat lahir maupun batin, sehat fisik maupun psychis apalagi sehat secara material dan spiritual, tidak loyo, segar bugar, tetap optimis  dan tetap bersemangat dalam beraktifitas serta mampu berinteraksi dengan masyarakat. Dan satu lagi terbebas dari kasus kasus hukum/kriminal  (kasus korupsi dan lain lain), sungguh ini adalah suatu kondisi yang didambakan oleh setiap orang. Ia telah berhasil melewati  masa masa sulit dan masa kritis yang dilalui sebelumnya. Betapa tidak, karena tidak semua orang bisa melewati proses yang demikian ini, kadang dipertengahan gagal kadang dipenghujung mendapatkan batu sandungan bahkan kadang terjatuh dan terjerumus kedalam "jurang kehancuran.
 Orang bilang dia telah " sukses"  hidupnya, walaupun pengertian sukses itu relatif.
Sementara ada orang orang yang dalam kehidupannya tidak sampai menginjak usia lanjut, karena berbagai faktor mereka banyak yang mati muda, menjelang dewasa, mati remaja atau masih anak anak dengan segala resikonya. Adas juga yang bisa mencapai usia lanjut,  namun secara tiiba tiba dalam akhir aklhir kehidupanjnya terjerat / terseret kasus hukum (baca : korupsi). Sungguh ini penderitaan tersendiri, walaupun belum tentu juga yang terlibast itu  semuanya bersala
 Yang terpenting ingin dikemukakan oleh penulis adalah bentuk aplikasi rasa syukur itu bagaimana dan seperti apa wujudnya. Penulis uingin berbagi pengalaman barangkali ada guna dan manfaatnya bagi yang lain. 

Aplikasi syukur

Berdasarkan pengalaman penulis, ada 4 (empat) langkah yang harus dilakukan, yaitu :
1. Dalam lubuk hati yang paling dalam merasa berterima kasih dan bersyukur sedalam dalamnya kepada Allah SWT atas anugerah kenikmatan yang luar biasa besarnya karena kita masih diberi kesempatan hidup, dimana kita yang dalam perjalanan hidup ini  sadar telah banyak melakukan kesalahan dan dosa,  kemudian sebagai amalan nyata kita beristighfar memohon ampunan secara terus menerus disertai melakukan perbaikan diri dan melakukan amal sholih sebanyak banyaknya.

2. Melakukan muhasabah (evaluasi diri/menghisab diri) tentang keburukan keburukan dan dosa dosa yang telah kita perbuat pada masa lalu kemudian menyadari dengan sepenuh hati atas kesalahan kesalahan tersebut disertai penyesalan dan berikrar untuk tidak mengulanginya.

3. Menutupi keterbatasan dan kekurangan diri kita,   dengan banyak dan aktif menuntut ilmu khususnya ilmu ilmu agama sebagai suatu kuajiban untuk memperbaiki kualitas peribadatamn kita kepada Allah SWT dengan berguru tentang ilmu dan amalan amalan yang syar'i kepada orang orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi,  serta tidak fanatik madzab atau golongan.

4. Mengupayakan baik sendiri maupun jamaah untuk mengamalkan ajaran dan syareat Islam secara kaafah (keseluruhan), sebagai upaya peningkatan kualitas penghambaan diri kepada Allah SWT, sebagaimana difirmankan dalam AlQur'an " Wahai orang orang yang beriman, masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah langkah syetan. Sungguh dia musuh yang nyata bagimu. "  (Q.S Albaqoroh/2 : 208).

Empat hal tersebut diatas kiranya perlu diamalkan karena itulah kesempatan terakhir yang diberikan Allah kepada kita sebagai bentuk amalan atas rasa syukur kita dan sebagai upaya menyelematkan diri kita dalam kehidupan dialam akherat nanti. Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita, sehingga  bisa mengamalkannya.  Amin.

Kamis, 04 Mei 2017

B E R S E R A H D I R I

Ketika umat atau seorang muslim/mukmin harus menderita karena mengalami suatu kezaliman atau ketidak adilan atau karena sesuatu musibah/bencana yang menimpa dirinya tanpa bisa melakukan suatu perlawanan , maka syareat Islam telah memberikan petunjuk agar kita berserah diri kepada Allah dengan bertawakkal kepada Allah. Sikap berserah dirti dan tawakkal adalah sikap seorang Hamba yang bersih baik lahirnya maupun batinnya menyerahkan diri sepenuhnya semua urusannya kepada Dzat Yang Maha Kuasa Allah SWT.

Tawakkal
Bagi yang rajin shalat setiap hari tidak kurang dari 5 (lima) kali kita diingatkan dengan membaca doa ini : Inna sholaati wanusuki, wamahyaaya wamamaati lillahir robbil 'aalamiin. " yang artinya Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Seru sekalian alam."
Itulah sesungguhnya hakekat dan arti dari penyerahan diri.  Berserah diri kepada Allah itu bukan berarti diam saja,menyerah dan tidak melakukan apa apa. Orang orang yang beriman akan senantiasa menyerahkan diri dengan bertawakkal kepada Allah dalam segala urusannya, sebagaimana yabng disebutkan dalam firmanNya : " Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh sungguh akan bersabar terhadap gangguan gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja  orang orang yang bertawakkal itu berserah diri. " (Q.S.Ibrahim/14 : 12)

Tidak berputus asa

Dalam proses penyerahan diri itu kita harus tetap tegar, tidak boleh bersedih hati maupun berkeluh kesah, meratap ratap, harus tetap semangat dan optimis, merasa bahwa setiap hamba akan diuji dan dicoba dengan macam macam ujian dimana sekalipun ujian itu nampak berat namun tetap tidak melebihi kemampuan manusia untuk mengatasinya, sehingga pantang bagi seorang hamba yang beriman itu berputus asa dari rahmat Allah. Dan itu memang dilarang. Kita dianjurkan untuk  berusaha dan  hanya berharap kepada Allah saja. 

Balasan surga
Dalam kondisi demikian, syareat telah memberikan petunjuk agar seorang hamba yang berserah diri  berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat baik dan mencapai kebaikan yang diridlai Allah SWT dan Allah telah menjanjikan kepada orang orang yang berserah diri secara  ikhklas dan totalitas itu dengan balasan surga, sebagaimana firmannya : " Wahai hamba hambaKu, tiada kekhawatiran  terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu brsedih hati. Yaitu orang orang yang beriman kepada ayat ayat Kami dan dahulu mereka adalah orang orang yang berserah diri. Masuklah kamu kedalam surga , kamu dan istri istri kamu digembirakan. " (Q.S. Az Zuhruf : 68 - 70 )

Berdasarkan bunyi ayat diatas, kepasrahan itu harus disertai dengan keimanan. Artinya jika seseorang 
sudah berserah diri  maka dia harus memiliki keimanan yang mantap, kokoh dan kuat kepada Allah SWT.

Orang yang berserah diri akan mendapat keuntungan yang besar. Rasulullah SAW dalam satu haditsnya yang diriwayatkan oleh   Imam Turmudzi, bersabda : " Jika kalian benar benar berserah diri kepada Allah, maka kalian akan dikaruniai rejeki seperti burung burung yang dikaruniai rejeki. Pagi pagi burung itu keluar  dengan perut kosong, petang hari mereka kembali dalam keadaan perut kenyang.

Orang yang benar benar mau berserah diri kepada Allah, paling tidak akan merasakan manfaat  antara lain, pertama hati merasa tentram karena sudah pasrah sehingga tidak memiliki beban, sehingga hatinya tenang, kedua keinginanmnya telah tersalurkan dasn ketiga Insya Allah nanti di akhirat akan mendapat hadiah surga. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

Rabu, 03 Mei 2017

HENTIKAN MAKSIAT,... BERTAUBATLAH...!


Maraknya perilaku maksiat dimasyarakat, mendorong penulis untuk mengangkat kembali tema ini walaupun sudah sering dibahas dan dibicarakan dalam berbagai tulisan, dengan maksud untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran . Maksiat dalam pengertian umum  adalah suatu perbuatan dosa, perbuatan buruk manusia yang melanggar larangan yang ditetapkan oleh syareat Allah SWT. Manusia yang sering melakukan perebuatan maksiat, dapat menyebabkan orang lupa kepada Allah SWT. dan susah menerima sesuatu kebaikan, baik yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Dia akan menjadi budak nafsunya dan menjadi pengikut iblis yang pada gilirannya apabuila tidak sadar dan bertaubat akan menjerumuskan dirinya dalam tempat yang hina.

Perbuatan buruk dan keji

Didalam AlQuran banyak digambarkan bahwa maksiat adalah perbuatan buruk namun terasa indah dan nikmat namun hanya sesaat saja., setelah itu yang ada, sisanuya adalah  hanya sebuah kekecewaan dyang kurang kuat imannya menjadi ketagihan, contoh orang yang berbuat zina. Dan itu memang tipu daya syetan yang membuatnya demikian, suatu perangkap bagi manusia yang sudah masuk perangkap syetan akan sulit terlepas kecuali orang orang yang mau berjuang sungguh sungguh untuk berhenti dan bertaubat kembali kepada Allah SWT.. Maka jauh jauh Allah SWT telah mengingatkan dengan firmannya dalam AlQur'an surat Al Isra' 32 : " Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adal;ah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk . "
Imam Ghazali dalam kitabnya " Bidayatul Hidayah" membagi maksiat kedalam 2 (dua) golongan  besar, yaitu, pertama Maksiat tubuh, yaitu maksiat yang dilakukan oleh anggota tubuh, seperti mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain. Sedangkan yang kedua adalah Maksiat hati, yaitu rasa dengki, iri, hasut, riya, sombong, angkuh dan lain lain.

Orang orang yang melakukan maksiat itu tidak ada untungnya sama sekali, keburukannya sangat jauh dan banyak sekali daripada kebaikannya, bahkan dijamin akan celaka , sengsara dan sangat merugikan pelakunya sendiri.  Karena itulah sesuatu yang dilarang oleh syareat itu pasti buruk bagi manusia dan yang diperintahkan itu pasti baik karena hal itu berasal dari Sang Maha Pencipta,  Dzat yang menciptakan mahluk itu sendiri.

Satu kemaksiatan mengundang kemaksiatan lainnya

Bila sesuatu kebohongan muncul maka akan muncul kebohongan yang lain. Demikian juga bila satu kemaksiatan dilakukan maka akan disusul dengan kemaksiatan yang lain, karena dorongan nafsu syahwat yang tidak pernah puas disamping bisikan syetan yang terus menerus.

Sebagian ulama salaf  mengatakan bahwa " Sesungguhnya diantara hukuman dari sebuah keburukan  adalah munculnya keburukan yang lain dibelakangnya. Dan sesungguhnya diantara pahala kebaikan adalah munculnya kebaikan yang muncul sesudahnya. Jika seorang hamba telah melakukan suatu kebaikan. maka kebaikan yang ada didekatnya mengatakan : " Hendaklah engkau mengamalkan aku juga . Jika dia telah mengamalkan kebaikan kedua maka kebaikan ketiga akan mengatakan seperti itu juga, begitu seterusnya. Sehingga kebaikan selalu bertambah dan pahalanyapun berlipat ganda. Demikian pula ketika seseorang melakukan keburukan, Hingga akhirnya baik itu ketaatan maupun kemaksiatan aakan menjadi sifat  yang melekat dan selalu tetapada pada pelakunya.

Ibnul Qoyyim al Jauzi mengataka, " Jika seorang mukhsin (terbiasa berbuat ketaatan) kemudian suatu saat meninggalkannya, maka jiwanya akan tertekan. Bumi yang luas terasa sempit. Seperti ikan keluar dari air, menggelepar gelepar. Kemudian jika dia kembali melakukan ketaatan , maka jiwa dan hatinya  kembali menjadi tenang dan tentram., Sebaliknya jika seorang mujrim (orang yang terbiasa melakukan kemaksiatan yang besar) lalu meninggalkan kemaksiatan itu  dan melakukan ketaatan maka jiwanya akan tertekan, dadanuya terasa sempit, hingga dia terbiasa  melakukan ketaatan. " (Ad Da'wa Dawa').

Satu hal lagi bahwa Allah SWT. melarang kemaksiatan karena kemaksiatan itu berdampak buruk bagi pelakunya. Allah mengharamkan perbuatan keji baik yang nampak maupun yang  tidak nampak. Ketahuilah bahwa kemaksiatan itu menjadi penyebab bencana dan maalapetaka dibumi ini. Namun sebagian orang tidak percaya  sehingga mereka masih terus melakukan kemaksiatan. Mereka beranggapan bahwa bencana yang terjadi itu karena faktor alam yang mengalami pergeseran dan umurnya yang sudah tua. Padahal bencana itu sebenarnya merupakan peringatan keras  dari Allah SWT.yang berupa azab bagi orang orang berdosa. Dalam skala kecil, bencana itu juga akan menimpa keluarga berupa kehancuran keluarga karena suatu kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri, contoh seperti kehancuran/kesulitan ekonomi  ketidak harmonisan,   ketidak berkahan dan lain lain. ...Wallahu a'lam 

Selasa, 25 April 2017

SABAR, Solusi Problema Kehidupan


Istilah sabar banyak disebut ketika manusia mengalami macam macam musibah, berupa kesusahan dan lain lain. Begitu urgennya sabar sampai Allah banyak memberikan petunjuk  di dalam  Al Qur'an dalam berbagai ayat ayatnya. Salah seorang ulama tersohor dari Mesir, Dr. Yusuf Al Qardawi menulis buku berjudul  " ALQUR'AN MENYURUH KITA SABAR ', Dalam buku ini banyak dikupas tentang kesabaran dalam menyikapi setiap cobaan ataupun ujian dalam kehidupan berdasarkan  petunjuk Al'Qur'an. Begitu utama dan mulianya berlaku sabar banyak diterangkan dalam AlQur'an.

Sabar adalah sebuah tahapan atau tangga yang harus dilalui oleh seseorang yang beriman  mendambakan kebahagiaan hidup yang mulia  didunia dan diakherat. Bagi seseorang yang menginginkan  dekat dengan Allah SWT. maka kuncinya adalah sabar.. Kesabaran akan menentukabn bobot keimanan seseorang.

Pengertian Sabar

Pengertian sabar bukan berarti kita diam, membiarkan saja ketika kita disakiti  atau dizalimi.  Atau juga diam atau acuh tak acuh terhadap kemungkaran yang terjadi apalagi itu terjadi didepan mata kita. Sabar adalah kemampuan seseorang untuk menahan dari hal hal yang diharamkan Allah SWT. padahal dia mampu untuk melakukannya. Menurut ulama Syeikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin , berkata, : " Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, menahannya dari perbuatan maksiat serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah  (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal 24).


Jumat, 21 April 2017

RASA MALU ITU BAGIAN DARI IMAN


Ada fenomena dewasa ini yang bisa kita saksikan dalam masyarakat dimana pendapat dan kondisinya dibalik balik, bahwa rasa malu dan iman itu sudah diasumsikan sebagai dua kutub yang berbeda dan terpisah. Katanya mereka , kita mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya tetapi itu tidak serta merta membuat kita malu untuk melakukan perrbuatan yang melanggar (baca dosa dan maksiyat). Sungguh ini adalah pendapat yang salah besar, darimana pendapat itu diperoleh' Itu adalah pendapat yang bersumber dari hawa nafsu.

Pengertian rasa malu dan  Iman

Menurut ketentuan syareat, rasa malu itu tidak dapat dipisahkan dari iman yang ada dalam dada setiap muslim. Ibarat daging dengan kulit, selalu melekat dan lengket. Ketika rasa malu itu hilang maka sebagian imannya juga akan hilang. Sekilas dapat dikupas berikut ini.
Terlebih dahulu perlu dipahami dulu apa rasa malu itu ?